|
Islam dan Pengentasan Kemiskinan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Yuli Andriansyah
|
|
Selasa, 27 September 2011 08:22 |
|
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 19)
Islam sebagai agama yang banyak dianut oleh rakyat Indonesia selayaknya memiliki andil (saham) yang besar terhadap pemberantasan kemiskinan bangsa ini. Sebagaimana kita maklumi bahwa kemiskinan adalah masalah bangsa Indonesia yang tiada pernah menemui titik terangnya. Setiap tahun kemiskinan semakin bertambah yang biasanya didahului oleh surplus Sumber Daya Manusia (SDM) usia remaja yang memasuki usia kerja. Karena terbatasnya lapangan pekerjaan maka berdampak pada pengangguran yang berimplikasi pada kemiskinan rakyat. Sebagai sebuah agama yang nilai-nilai luhurnya bersumber dari tuhan (wahyu) maka Islam seharusnya mampu membaca kondisi yang ada dan berusaha melakukan respon yang benar dan tepat guna. Dengan demikian kemiskinan tidak lagi menjadi momok bangsa yang berlarut-larut tanpa menemui jalan tengah (solusi). Dan hal ini juga karena hakikatnya ajaran Islam itu mengandung nilai-nilai implikatif yang responsif, konstruktif, dan inovatif terhadap kehidupan umat manusia.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Oposisi Biner: Relasi Mutualistis Linier |
|
|
|
|
Ditulis oleh Yuli Andriansyah
|
|
Jumat, 23 September 2011 09:33 |
|
وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami Ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (Q.S. al-Dzariyât [51]: 49)
Realitas sosial selalu menghadirkan keberadaan (eksistensi) yang terdiri dari dua hal yang berbeda. Misalnya, kemiskinan yang selalu saja dihadapkan dengan kekayaan. Hal ini karena secara literal-kebahasaan lawan dari kata miskin, yang paling tepat, adalah kaya. Oleh karena itu, miskin dan kaya adalah sebuah “oposisi”, yang secara struktural sebenarnya berhubungan erat. Dalam hal ini, eksistensi sesuatu menjadi semakin jelas manakala eksistensi sesuatu yang lain tidak menampakkan dirinya. Kemiskinan menjadi sebuah pembicaraan yang hangat dan fenomenal karena dirasa sangat menyentuh realitas kehidupan. Namun, sebenarnya aspek lain yang mengakibatkan perbincangan ini adalah inferioritas kekayaan yang tidak begitu menonjol, atau memang sengaja tidak ditampakkan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
Ketika Ketaatan Berujung pada Kemaksiatan |
|
|
|
|
Ditulis oleh Yuli Andriansyah
|
|
Jumat, 23 September 2011 08:48 |
|
Maksiat yang membawa pelakunya pada perasaan hina dan butuh (mendekatkan diri) pada Allah lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan rasa keagungan diri dan disertai kesombongan. (Ibn Athaillâh)
Kuncinya adalah Hati
Semestinya merupakan hal yang wajar bila seorang Muslim merasakan ketenangan saat telah menunaikan ketaatan dan merasakan ketakutan setelah melakukan kemaksiatan. Dalam ranah dhahir, secara kasat mata, ketaatan adalah mutlak sebuah kabaikan. Sementara kemaksiatan –sekecil apapun bentuknya- tetaplah kesalahan. Namun, struktur bangunan amal seseorang tidaklah terjadi berkat kontribusi aktivitas jasmani saja. Amal tidaklah terwujud tanpa ada campur tangan rohani yang biasa dikenal dan diwakili oleh hati. Dalam hadits Nabi unsur terakhir justru disebut sebagai tolak ukur baik buruknya aktivitas jasmani seseorang. “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasadnya seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati (al-qalbu)“. (HR. Bukhari dan Muslim).
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|